Mengenal "Rabbani" Bukan "Ramadhani": Menjadi Hamba
Allah di Setiap Bulan
Ada sebuah ungkapan bijak dari para
ulama salaf yang sangat mendalam:
"Kun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyan." "Jadilah hamba Rabbani (penyembah Allah), dan janganlah
menjadi hamba Ramadhani (penyembah bulan Ramadhan)."
Ungkapan ini menjadi pengingat tajam
bagi kita saat Ramadhan mulai beranjak pergi. Fenomena "hamba
Ramadhani" sering kita lihat: masjid penuh sesak di awal bulan, namun
perlahan sepi saat Syawal tiba. Al-Qur'an dibaca khatam berkali-kali, namun
setelah Idul Fitri kembali berdebu di rak lemari.
Berikut adalah tiga prinsip utama
untuk menjadi hamba Rabbani:
1. Ketuhanan yang Tidak Terbatas Waktu
Allah yang kita sembah di bulan
Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan Syawal, Dzulhijjah, dan bulan-bulan
lainnya. Kewajiban menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tidak
bersifat musiman. Seorang hamba Rabbani memahami bahwa ibadah adalah kebutuhan
jiwa yang berkelanjutan, bukan sekadar beban tahunan yang harus digugurkan.
2. Menjaga
"Output" Madrasah Ramadhan
Tujuan besar Ramadhan adalah mencetak
pribadi yang bertaqwa. Jika Ramadhan adalah tempat latihan (madrasah), maka
bulan-bulan berikutnya adalah medan ujian yang sesungguhnya.
·
Jika di bulan puasa kita bisa menahan diri dari hal yang
halal (makan dan minum), maka hamba Rabbani harus lebih mampu menahan diri dari
yang haram di luar Ramadhan.
·
Jika kita bisa bangun malam untuk Sahur dan Tahajud, maka
di bulan lain setidaknya kita mampu menjaga shalat Subuh tepat waktu.
3. Konsistensi dalam
Amal Kecil (Istiqomah)
Kunci menjadi hamba Rabbani bukanlah
melakukan amal besar yang langsung berhenti, melainkan amal yang kontinu.
Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang
dilakukan secara terus-menerus (istiqomah), meskipun sedikit.
·
Lebih baik membaca satu halaman Al-Qur'an setiap hari
sepanjang tahun, daripada khatam 30 juz hanya di bulan Ramadhan lalu tidak
menyentuhnya lagi.
Penutup
Ramadhan akan segera berakhir, namun
kesempatan untuk beramal shalih tidak akan pernah tutup hingga ajal menjemput.
Mari kita buktikan bahwa didikan kesabaran, kejujuran, dan kedermawanan yang
kita pupuk selama sebulan ini akan terus bersemi di bulan-bulan mendatang.
Jangan biarkan ketaatan kita pergi
bersama hilalnya bulan Ramadhan. Jadilah hamba Allah yang setia di setiap hela
nafas, di mana pun dan kapan pun kita berada. Semoga Allah memberikan kita
kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan-Nya.
Komentar
Posting Komentar