8 April 26: Kultum 20, Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sudah menjadi tradisi kita di
Indonesia, ketika Syawal tiba, kita berbondong-bondong melakukan
"Salaman" atau Halal bi Halal untuk saling memaafkan. Namun,
pertanyaannya: Apakah proses memaafkan itu sudah meresap ke dalam jiwa, ataukah
hanya menjadi ritual jabatan tangan yang kering tanpa makna?
Memaafkan adalah salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu yang
paling tinggi. Mengapa? Karena nafsu kita selalu ingin menang, ingin membalas,
dan ingin menyimpan dendam agar merasa lebih unggul dari orang lain.
Memaafkan: Karakter
Mereka yang "Naik Kelas"
Dalam Al-Quran, Allah SWT menjanjikan
surga bagi orang yang bertakwa, dan salah satu ciri utamanya adalah:
"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan." (QS.
Ali 'Imran: 134)
Ada tiga tingkatan dalam memaafkan
yang perlu kita capai agar karakter kita benar-benar bertumbuh:
1. Menahan Diri (Al-Kadzimina Al-Ghaizh) Ini adalah tahap awal, mirip dengan
"Imsak". Kita merasa sakit hati, kita mampu membalas, tapi kita
memilih untuk menahan lisan dan tangan kita. Kita tidak meledak, namun
barangkali rasa sakit itu masih ada.
2. Memberi Maaf (Al-'Afina 'Aninnas) Ini lebih tinggi lagi. Kita tidak hanya diam, tapi kita
secara sadar menghapus catatan kesalahan orang tersebut dari hati kita. Kita
membebaskan diri kita dari beban kebencian. Ingatlah, memaafkan orang lain
sebenarnya adalah hadiah untuk
diri kita sendiri agar hati kita kembali tenang.
3. Berbuat Baik kepada yang Menyakiti (Al-Muhsinin) Inilah puncak kesempurnaan karakter.
Setelah dizalimi, kita justru membalasnya dengan kebaikan. Inilah karakter
Rasulullah SAW yang membuat musuh-musuhnya tertunduk malu dan akhirnya jatuh
cinta pada Islam.
Memaafkan sebagai
Strategi Hidup Tenang
Hadirin yang mulia,
Menyimpan dendam itu seperti meminum
racun tapi berharap orang lain yang mati. Dendam menguras energi mental kita.
Di tengah dinamika hidup dan pekerjaan yang menuntut fokus tinggi, kita tidak
punya waktu untuk memelihara kebencian.
Memaafkan melatih kita untuk memiliki Jiwa yang Besar. Orang yang
berjiwa kecil akan sibuk dengan kesalahan orang lain, sedangkan orang yang
berjiwa besar akan sibuk memperbaiki diri dan memberi manfaat.
Mempraktikkan Maaf
Sebelum Syawal Tiba
Jangan tunggu hingga jabatan tangan di
hari raya. Ramadhan ini adalah waktu terbaik untuk membersihkan
"sampah-sampah" hati.
·
Jika ada konflik di keluarga, jadilah yang pertama
meminta maaf atau memberi maaf.
·
Jika ada gesekan di lingkungan profesional, lepaskanlah
rasa ego agar kolaborasi tetap berjalan dengan berkah.
Memaafkan tidak akan membuat kita
rendah di mata manusia; justru Allah menjanjikan kemuliaan bagi siapa pun yang
mau melapangkan dadanya.
Kesimpulan
Mari kita jadikan
"Memaafkan" sebagai karakter permanen, bukan sekadar basa-basi
tahunan. Dengan memaafkan, kita membuktikan bahwa kita bukan lagi budak dari
hawa nafsu yang penuh amarah, melainkan hamba Allah yang penuh kasih sayang dan
kedamaian.
Semoga Allah melembutkan hati kita
semua untuk bisa saling memaafkan dengan tulus, sehingga kita bisa mengakhiri
Ramadhan ini dengan hati yang benar-benar bersih (Fitrah).
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (**)
Komentar
Posting Komentar