Langsung ke konten utama

Pererat Silaturahmi, 60 Anggota Bani Ahmad Wiyarjo Berkumpul di Kurahan Sanden

 

Pererat Silaturahmi, 60 Anggota Bani Ahmad Wiyarjo Berkumpul di Kurahan Sanden Bantul DIY

Selamat Iedul Fitri 1447/ 2026. Taqabbalallahu Minna waminkum.
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Selamat Iedul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


BANTUL – Suasana penuh kehangatan menyelimuti kediaman keluarga Mbah Sukar/ Mbah Tum di Kurahan, Murtigading, Sanden, Bantul, saat puluhan anggota keluarga besar berkumpul dalam acara pertemuan tahunan Bani Ahmad Wiyarjo. Momen yang berlangsung di tengah suasana Idul Fitri 1447 H ini dihadiri oleh sekitar 60 orang yang merupakan representasi dari enam pilar keluarga besar.

Keenam silsilah persaudaraan yang hadir memenuhi ruangan terdiri dari keluarga:

  1. Mbah Mus (Canganom)

  2. Mbah Narto (Kurahan)

  3. Mbah Harso (Nomporejo, Galur)

  4. Mbah Pardilah (Brosot, Galur)

  5. Mbah Pon (Sangkeh)

  6. Mbah Sukar/Tum (Kurahan)

Acara dibuka dengan khidmat oleh pembawa acara (MC), yang kemudian dilanjutkan dengan sesi spiritual berupa pembacaan zikir dan doa bersama. Lantunan doa yang dipanjatkan menambah kekhusyukan acara sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan berkumpul kembali dalam keadaan sehat walafiat.

Setelah prosesi inti selesai, suasana berubah menjadi santai dan ceria pada sesi ramah tamah. Para hadirin menikmati aneka hidangan khas SOTO dan jajanan halal yang telah disiapkan oleh tuan rumah sembari bertukar kabar antar generasi.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen langka ini, disusul dengan tradisi salam-salaman (jabat tangan). Isak haru dan tawa bahagia mewarnai momen saling memaafkan, memperkuat tali persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun selama ini di bawah naungan nama besar Ahmad Wiyarjo.(**)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultum 20: Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan

  8 April 26: Kultum 20, Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hadirin yang dirahmati Allah, Sudah menjadi tradisi kita di Indonesia, ketika Syawal tiba, kita berbondong-bondong melakukan "Salaman" atau Halal bi Halal untuk saling memaafkan. Namun, pertanyaannya: Apakah proses memaafkan itu sudah meresap ke dalam jiwa, ataukah hanya menjadi ritual jabatan tangan yang kering tanpa makna? Memaafkan adalah salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu yang paling tinggi. Mengapa? Karena nafsu kita selalu ingin menang, ingin membalas, dan ingin menyimpan dendam agar merasa lebih unggul dari orang lain. Memaafkan: Karakter Mereka yang "Naik Kelas" Dalam Al-Quran, Allah SWT menjanjikan surga bagi orang yang bertakwa, dan salah satu ciri utamanya adalah: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." ...

Kultum 21: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan

  Kultum 21: Zakat Maal & Sedekah Jariyah Tema: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan 1. Mukadimah Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan menghirup udara di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kedermawanan. 2. Zakat Maal: Membersihkan, Bukan Mengurangi Memasuki fase akhir Ramadhan, fokus kita biasanya tertuju pada Zakat Fitrah. Namun, jangan sampai kita melupakan Zakat Maal (zakat harta). Jika Zakat Fitrah adalah pensuci jiwa, maka Zakat Maal adalah pensuci harta. Allah SWT berfirman: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Seringkali kita merasa sayang mengeluarkan $2,5\%$ . Padahal, secara filosofis, zakat bukanlah pemotongan harta, melainkan pembersihan "kotoran" atau hak orang lain yang tertitip di domp...

Kultum 2: Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat

  Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat   1. Pembukaan (Mukadimah) Mulai dengan Salam, hamdalah, syahadatain dan shalawat.serta satu dalil yang mau dibahas Pancing audiens dengan pernyataan:  "Banyak orang mampu berlari kencang di bulan Ramadhan, namun sedikit yang mampu tetap berjalan konsisten setelah fajar Syawal menyapa." 2. Inti Sari: Mengapa Istiqamah Terasa Berat?  Istiqamah seringkali terasa berat karena kita sering memaksakan "dosis Ramadhan" ke dalam bulan-bulan biasa. Kita lupa bahwa: Istiqamah bukan tentang kecepatan, tapi tentang arah.  Lebih baik berjalan satu senti menuju Allah setiap hari daripada berlari satu kilometer lalu berhenti selamanya. Musuh utama adalah futur (kejenuhan).  Setelah satu bulan penuh dengan jadwal ibadah yang padat, mental manusia secara alami akan mencari "istirahat" ( rehat ). 3. Strategi "Langkah Kecil" agar Tidak Terhenti ...