Langsung ke konten utama

Kecerian Lebaran di Nglebeng: Tiga Bersaudara, Kakak dan Adik, Nikmati Momen Terakhir Liburan dengan Bersepeda

 

Kecerian Lebaran di Nglebeng: Tiga Bersaudara, Kakak & adik, Nikmati Momen Terakhir Liburan dengan Bersepeda







BANTUL – Suasana hangat perayaan Idul Fitri 1447 H masih terasa kental di wilayah Nglebeng, Tamanan, Banguntapan, Bantul. Pada Ahad (29/03/2026) pagi, terlihat momen kebersamaan tiga bersaudara—Afiffah, Raka, dan Rara—yang asyik bermain sepeda bersama menyusuri jalanan kampung yang asri.

Sambil menikmati udara pagi khas pedesaan di pinggiran Bantul, DIY, ketiganya tampak penuh tawa saat memacu sepeda mereka. Afiffah, sang kakak tertua, terlihat dengan sabar mengayun langkah sepedanya sembari sesekali menyemangati kedua adiknya, Raka dan Rara, yang mengikuti dari belakang dengan antusias.

Momen ini menjadi sangat berkesan mengingat waktu libur lebaran tahun 2026 segera berakhir. Esok hari, mereka dijadwalkan akan kembali ke rutinitas sekolah.

"Senang sekali bisa main sepeda bareng-bareng di sini. Mumpung masih libur dan cuacanya cerah sebelum besok harus masuk sekolah lagi," ungkap salah satu dari mereka dengan wajah berseri.

Kawasan Tamanan Banguntapan Bantul memang sering menjadi lokasi favorit bagi warga lokal untuk beraktivitas ringan di pagi hari karena lingkungannya yang relatif tenang. Ada embung Potorono. Ada Lapangan Tamanan dan Pusat jajanan Tamanan. Bagi Afiffah, Raka, dan Rara, bersepeda di sepanjang jalan tepi sawah di hari Ahad ini menjadi penutup manis liburan lebaran mereka di tahun ini sebelum kembali fokus menuntut ilmu di bangku sekolah. (**)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultum 20: Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan

  8 April 26: Kultum 20, Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hadirin yang dirahmati Allah, Sudah menjadi tradisi kita di Indonesia, ketika Syawal tiba, kita berbondong-bondong melakukan "Salaman" atau Halal bi Halal untuk saling memaafkan. Namun, pertanyaannya: Apakah proses memaafkan itu sudah meresap ke dalam jiwa, ataukah hanya menjadi ritual jabatan tangan yang kering tanpa makna? Memaafkan adalah salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu yang paling tinggi. Mengapa? Karena nafsu kita selalu ingin menang, ingin membalas, dan ingin menyimpan dendam agar merasa lebih unggul dari orang lain. Memaafkan: Karakter Mereka yang "Naik Kelas" Dalam Al-Quran, Allah SWT menjanjikan surga bagi orang yang bertakwa, dan salah satu ciri utamanya adalah: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." ...

Kultum 21: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan

  Kultum 21: Zakat Maal & Sedekah Jariyah Tema: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan 1. Mukadimah Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan menghirup udara di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kedermawanan. 2. Zakat Maal: Membersihkan, Bukan Mengurangi Memasuki fase akhir Ramadhan, fokus kita biasanya tertuju pada Zakat Fitrah. Namun, jangan sampai kita melupakan Zakat Maal (zakat harta). Jika Zakat Fitrah adalah pensuci jiwa, maka Zakat Maal adalah pensuci harta. Allah SWT berfirman: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Seringkali kita merasa sayang mengeluarkan $2,5\%$ . Padahal, secara filosofis, zakat bukanlah pemotongan harta, melainkan pembersihan "kotoran" atau hak orang lain yang tertitip di domp...

Kultum 2: Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat

  Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat   1. Pembukaan (Mukadimah) Mulai dengan Salam, hamdalah, syahadatain dan shalawat.serta satu dalil yang mau dibahas Pancing audiens dengan pernyataan:  "Banyak orang mampu berlari kencang di bulan Ramadhan, namun sedikit yang mampu tetap berjalan konsisten setelah fajar Syawal menyapa." 2. Inti Sari: Mengapa Istiqamah Terasa Berat?  Istiqamah seringkali terasa berat karena kita sering memaksakan "dosis Ramadhan" ke dalam bulan-bulan biasa. Kita lupa bahwa: Istiqamah bukan tentang kecepatan, tapi tentang arah.  Lebih baik berjalan satu senti menuju Allah setiap hari daripada berlari satu kilometer lalu berhenti selamanya. Musuh utama adalah futur (kejenuhan).  Setelah satu bulan penuh dengan jadwal ibadah yang padat, mental manusia secara alami akan mencari "istirahat" ( rehat ). 3. Strategi "Langkah Kecil" agar Tidak Terhenti ...