Langsung ke konten utama

Postingan

Kultum 21: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan

  Kultum 21: Zakat Maal & Sedekah Jariyah Tema: Menjaga Kedermawanan Tetap Mengalir Setelah Ramadhan 1. Mukadimah Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan menghirup udara di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kedermawanan. 2. Zakat Maal: Membersihkan, Bukan Mengurangi Memasuki fase akhir Ramadhan, fokus kita biasanya tertuju pada Zakat Fitrah. Namun, jangan sampai kita melupakan Zakat Maal (zakat harta). Jika Zakat Fitrah adalah pensuci jiwa, maka Zakat Maal adalah pensuci harta. Allah SWT berfirman: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Seringkali kita merasa sayang mengeluarkan $2,5\%$ . Padahal, secara filosofis, zakat bukanlah pemotongan harta, melainkan pembersihan "kotoran" atau hak orang lain yang tertitip di domp...
Postingan terbaru

Kultum 20: Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan

  8 April 26: Kultum 20, Indahnya Memaafkan, Melampaui Sekadar Tradisi Jabatan Tangan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hadirin yang dirahmati Allah, Sudah menjadi tradisi kita di Indonesia, ketika Syawal tiba, kita berbondong-bondong melakukan "Salaman" atau Halal bi Halal untuk saling memaafkan. Namun, pertanyaannya: Apakah proses memaafkan itu sudah meresap ke dalam jiwa, ataukah hanya menjadi ritual jabatan tangan yang kering tanpa makna? Memaafkan adalah salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu yang paling tinggi. Mengapa? Karena nafsu kita selalu ingin menang, ingin membalas, dan ingin menyimpan dendam agar merasa lebih unggul dari orang lain. Memaafkan: Karakter Mereka yang "Naik Kelas" Dalam Al-Quran, Allah SWT menjanjikan surga bagi orang yang bertakwa, dan salah satu ciri utamanya adalah: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." ...

Kultum 6: Keutamaan Puasa Syawal: Menyempurnakan Pahala Setahun Penuh

  Keutamaan Puasa Syawal: Menyempurnakan Pahala Setahun Penuh Setelah sebulan penuh kita berjuang di madrasah Ramadhan, kini kita memasuki bulan Syawal. Syawal secara bahasa berarti "peningkatan" . Idealnya, kualitas ibadah kita pun turut meningkat setelah dilatih selama puasa. Salah satu pintu peningkatan tersebut adalah melalui Puasa Enam Hari di Bulan Syawal . Berikut adalah beberapa keutamaan luar biasa dari ibadah ini:   1. Pahala Seperti Berpuasa Setahun Penuh Inilah keutamaan yang paling masyhur. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim) Secara matematis, setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Puasa 30 hari Ramadhan setara dengan 300 hari, dan 6 hari di bulan Syawal setara dengan 60 hari. Jika dijumlahkan, hasilnya adalah 360 hari—genap satu tahun penuh. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita merai...

Kultum 5: Mengenal "Rabbani" Bukan "Ramadhani": Menjadi Hamba Allah di Setiap Bulan

  Mengenal "Rabbani" Bukan "Ramadhani": Menjadi Hamba Allah di Setiap Bulan Ada sebuah ungkapan bijak dari para ulama salaf yang sangat mendalam: "Kun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyan." "Jadilah hamba Rabbani (penyembah Allah), dan janganlah menjadi hamba Ramadhani (penyembah bulan Ramadhan)." Ungkapan ini menjadi pengingat tajam bagi kita saat Ramadhan mulai beranjak pergi. Fenomena "hamba Ramadhani" sering kita lihat: masjid penuh sesak di awal bulan, namun perlahan sepi saat Syawal tiba. Al-Qur'an dibaca khatam berkali-kali, namun setelah Idul Fitri kembali berdebu di rak lemari. Berikut adalah tiga prinsip utama untuk menjadi hamba Rabbani : 1. Ketuhanan yang Tidak Terbatas Waktu Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan Syawal, Dzulhijjah, dan bulan-bulan lainnya. Kewajiban menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tidak bersifat musiman. Seorang hamba Rabbani memahami b...

Kultum 4: Lulus Ujian Ramadhan, Apa Tanda Puasanya Diterima

  Kultum 4: Lulus Ujian Ramadhan, Tanda Puasanya Diterima Memasuki fase akhir Ramadhan, atau setelah masuk bulan syawal, pertanyaan besar yang sering muncul dalam benak kita bukanlah "Berapa banyak undangan buka bersama atau acara syawalan,   yang dihadiri?", melainkan "Apakah puasa saya diterima oleh Allah SWT?" . Meskipun diterimanya amal adalah hak prerogatif Allah, para ulama memberikan indikator atau tanda-tanda seseorang dianggap "lulus" dalam ujian madrasah Ramadhan ini. Berikut adalah beberapa ciri utamanya:   1. Istiqomah dalam Kebaikan (Ad-Dawam) Tanda yang paling nyata dari diterimanya amal shalih adalah lahirnya amal shalih berikutnya. Jika setelah Ramadhan usai, semangat shalat berjamaah, tilawah Al-Qur'an, dan sedekah kita tetap terjaga—meskipun frekuensinya tidak sepadat saat bulan puasa—itu adalah sinyal positif. "Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya." 2. Perubahan Akhlak dan Karakter Ramadhan adala...

Kultum 3: Puasa Lisan di Dunia Digital (Melanjutkan Madrasah Sabar)

  Puasa Lisan di Dunia Digital (Melanjutkan Madrasah Sabar)   1. Pembukaan (Mukadimah) ·          Mulai dengan syukur dan shalawat. ·          Pernyataan Pembuka: "Selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan, kita telah lulus ujian 'Sabar Jasmani'—mampu menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, ujian sabar yang sesungguhnya justru baru dimulai saat kita memegang ponsel kembali di luar bulan Ramadhan." 2. Inti Sari: Dari Perut ke Jari Selama Ramadhan, kita sangat berhati-hati agar puasa tidak batal karena makan. Di luar Ramadhan, kita harus memiliki kehati-hatian yang sama agar amal kita tidak "bocor" karena lisan dan jari. ·          Logika Sabar: Jika menahan lapar adalah sabar tingkat dasar, maka menahan diri dari komentar yang tidak perlu adalah sabar tingkat "Naik Kelas". ·       ...

Kultum 2: Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat

  Istiqamah Itu Berat, Yang Ringan Itu Rehat   1. Pembukaan (Mukadimah) Mulai dengan Salam, hamdalah, syahadatain dan shalawat.serta satu dalil yang mau dibahas Pancing audiens dengan pernyataan:  "Banyak orang mampu berlari kencang di bulan Ramadhan, namun sedikit yang mampu tetap berjalan konsisten setelah fajar Syawal menyapa." 2. Inti Sari: Mengapa Istiqamah Terasa Berat?  Istiqamah seringkali terasa berat karena kita sering memaksakan "dosis Ramadhan" ke dalam bulan-bulan biasa. Kita lupa bahwa: Istiqamah bukan tentang kecepatan, tapi tentang arah.  Lebih baik berjalan satu senti menuju Allah setiap hari daripada berlari satu kilometer lalu berhenti selamanya. Musuh utama adalah futur (kejenuhan).  Setelah satu bulan penuh dengan jadwal ibadah yang padat, mental manusia secara alami akan mencari "istirahat" ( rehat ). 3. Strategi "Langkah Kecil" agar Tidak Terhenti ...